www.passportbacktoourroots.org – Keputusan pemerintah untuk tarik dana SAL dari perbankan hingga Rp75 triliun memantik banyak tanya. Di satu sisi, langkah ini diklaim aman oleh otoritas fiskal. Di sisi lain, publik khawatir efek berantai pada likuiditas perbankan serta laju kredit. Tarik dana SAL bukan sekadar isu teknis kas negara. Kebijakan tersebut menyentuh jantung hubungan fiskal–moneter dan kepercayaan pasar keuangan.
Sebagai penulis yang mengikuti dinamika anggaran, saya melihat tarik dana SAL kali ini ibarat ujian kedewasaan tata kelola fiskal. Pemerintah mencoba memaksimalkan kas mengendap, sementara perbankan dipaksa lebih efisien mengelola dana. Pertanyaannya, apakah penarikan ini mendorong ekonomi riil atau justru mempersempit ruang gerak bank menyalurkan pembiayaan produktif? Di titik inilah kebijakan fiskal perlu dibedah lebih dalam, bukan hanya dilihat sebagai angka pada kertas APBN.
Apa Itu SAL dan Mengapa Pemerintah Menariknya?
Sebelum mengulas tarik dana SAL lebih jauh, penting memahami dulu apa itu SAL. Saldo Anggaran Lebih merupakan dana sisa anggaran tahun sebelumnya. Uang tersebut mengendap setelah belanja negara tidak seratus persen terserap. Biasanya SAL disimpan di perbankan sebagai kas pemerintah. Pos ini kerap dianggap bantalan fiskal, semacam tabungan darurat untuk menghadapi gejolak ekonomi ataupun kebutuhan tak terduga.
Tahun ini, pemerintah memutuskan tarik dana SAL dari perbankan dalam skala cukup besar, sekitar Rp75 triliun. Langkah itu mengarah pada pemanfaatan kas menganggur untuk menutup kebutuhan pembiayaan. Dengan begitu, tekanan menerbitkan utang baru bisa berkurang. Secara teori, penggunaan SAL mengurangi beban bunga obligasi negara, sehingga APBN lebih efisien. Namun eksekusi lapangan sering tidak sesederhana konsep atas kertas.
Dari sudut pandang kebijakan, tarik dana SAL ibarat menyeimbangkan dua kepentingan. Di satu sisi, Kementerian Keuangan ingin kas negara tidak hanya tidur di rekening perbankan. Dana besar tanpa fungsi nyata dianggap pemborosan kesempatan. Di sisi lain, bank menikmati sumber dana murah dari penempatan SAL ini. Saat pemerintah menariknya, likuiditas perbankan otomatis menyusut. Keseimbangan antara efisiensi fiskal dan stabilitas sektor keuangan pun kembali dipertaruhkan.
Dampak Tarik Dana SAL ke Perbankan dan Likuiditas
Tarik dana SAL Rp75 triliun tentu bukan angka kecil bagi perbankan. Walau skala perbankan nasional cukup besar, aliran keluar dana pemerintah tetap terasa pada sebagian bank. Terutama bank yang selama ini menjadi kanal utama penempatan kas negara. Penarikan tiba-tiba berpotensi mengganggu pengelolaan aset–liabilitas bank jika tidak diantisipasi. Meski otoritas menganggapnya terkendali, pelaku pasar tetap mencermati langkah ini secara hati-hati.
Likuiditas perbankan sejauh ini digambarkan masih longgar. Rasio-rasio permodalan maupun kecukupan likuiditas relatif kuat. Kondisi tersebut membuat pejabat fiskal cukup percaya diri melakukan tarik dana SAL. Namun keadaan makro dapat berubah cepat. Bila pertumbuhan kredit mulai naik dan dana murah menipis, penarikan semacam ini bisa menjadi faktor penekan tambahan. Di titik itu, bank mungkin harus bersaing lebih agresif menarik dana masyarakat, dengan konsekuensi kenaikan biaya bunga.
Dari perspektif saya, penilaian bahwa “tidak apa-apa” agak terlalu optimistis bila tanpa skenario cadangan yang jelas. Memang, saat ini sistem perbankan cukup tebal modal. Tetapi mengandalkan satu momentum stabil sering membuat pembuat kebijakan terlena. Tarik dana SAL sebaiknya diiringi komunikasi terbuka ke industri keuangan. Bank perlu mendapat sinyal waktu, skala, serta ritme penarikan, agar strategi pendanaan bisa disesuaikan tanpa mengguncang suku bunga maupun aliran kredit.
Alasan Fiskal di Balik Tarik Dana SAL
Dari sisi APBN, tarik dana SAL terasa logis. Pemerintah menghadapi kebutuhan pembiayaan cukup besar, sedangkan ruang mengerek utang tidak selonggar masa pandemi. Pasar global masih diliputi ketidakpastian suku bunga tinggi serta volatilitas geopolitik. Dalam situasi seperti ini, mengandalkan SAL untuk menutup celah anggaran terlihat sebagai pilihan rasional. Negara memakai tabungan lebih dulu sebelum kembali meminjam ke pasar.
Pemanfaatan SAL juga memberi sinyal disiplin fiskal kepada investor. Pesannya, pemerintah tidak serta-merta menambah utang saat defisit melebar. Ada upaya mengoptimalkan sumber dana domestik. Sikap ini sering diapresiasi lembaga pemeringkat maupun pelaku pasar obligasi. Jika dikelola hati-hati, tarik dana SAL justru membantu menjaga kepercayaan, karena menunjukkan pemerintah sadar batas kemampuan berutang. Namun disiplin fiskal bukan hanya soal angka, melainkan juga konsistensi jangka panjang.
Dari kacamata pribadi, langkah fiskal ini ibarat orang yang mulai memakai dana darurat setelah bertahun menabung. Tindakan tersebut wajar, selama ada rencana jelas mengisi ulang tabungan ketika kondisi membaik. Jika SAL terus dikuras tanpa rencana penguatan kembali, bantalan fiskal akan menipis. Ketika krisis baru datang, ruang gerak APBN semakin sempit. Jadi tarik dana SAL sekarang perlu dibarengi peta jalan penguatan kembali cadangan fiskal beberapa tahun ke depan.
Implikasi ke Kredit, Suku Bunga, dan Sektor Riil
Satu isu penting dari tarik dana SAL yaitu dampaknya pada suku bunga dan penyaluran kredit. Bila bank kehilangan dana murah berbentuk kas pemerintah, mereka cenderung mencari pengganti dari deposito atau surat berharga. Sumber dana alternatif sering lebih mahal. Biaya bunga yang meningkat dapat diteruskan ke debitur, terutama pelaku usaha kecil dan menengah. Efeknya mungkin tidak langsung, tetapi tetap patut diantisipasi otoritas moneter maupun fiskal.
Di sisi lain, bila bank sudah mengantisipasi tarik dana SAL sejak awal, dampaknya bisa teredam. Sebagian bank besar biasanya memiliki portofolio surat berharga negara yang dapat dicairkan segera. Mereka juga punya akses pasar dana yang luas. Tantangan sesungguhnya berada pada bank kecil atau menengah, yang ketergantungan terhadap penempatan dana pemerintah lebih tinggi. Tanpa koordinasi erat dengan regulator, ketidakseimbangan antar bank bisa melebar.
Sebagai pengamat, saya melihat tarik dana SAL harus dihubungkan langsung dengan target penyaluran kredit ke sektor produktif. Jika dana SAL hanya dipakai menutup defisit tanpa strategi mendorong belanja berkualitas, ekonomi riil tidak akan merasakan manfaat berarti. Idealnya, penarikan dibarengi percepatan proyek strategis, dukungan UMKM, maupun insentif investasi. Jadi pergerakan dana dari bank ke kas negara berujung pada aktivitas ekonomi nyata, bukan sekadar perpindahan pos di neraca fiskal.
Menakar Risiko Sistemik dan Pentingnya Transparansi
Risiko sistemik dari tarik dana SAL mungkin tampak kecil saat kondisi perbankan stabil. Namun sejarah krisis mengajarkan, gejolak sering muncul dari kombinasi tekanan kecil yang diabaikan. Karena itu, transparansi rencana penarikan menjadi kunci. Publik berhak mengetahui alasan, jadwal, serta proyeksi dampaknya. Otoritas fiskal dan moneter perlu menunjukkan bahwa keputusan ini bukan reaktif, melainkan bagian dari strategi jangka menengah untuk menata kas negara, menjaga kepercayaan pasar, serta melindungi nasabah bank dari guncangan mendadak.
Refleksi: Menjaga Keseimbangan antara Kas Negara dan Stabilitas
Tahun-tahun ke depan akan menjadi ujian seberapa cermat pemerintah mengelola tarik dana SAL. Di satu pihak, tuntutan belanja sosial, infrastruktur, dan agenda transformasi ekonomi terus meningkat. Di pihak lain, ruang fiskal tidak lagi seluas masa ketika defisit boleh melebar bebas. Memakai SAL ibarat menarik napas panjang sebelum berlari lagi. Namun napas itu harus diatur, supaya langkah ekonomi tidak tersengal saat tantangan global datang bergelombang.
Secara pribadi, saya menilai tarik dana SAL bukan sesuatu yang harus ditakuti, tetapi juga tidak patut diremehkan. Kuncinya ada pada ritme penarikan, koordinasi lintas otoritas, serta kualitas belanja yang dibiayai dari dana tersebut. Jika SAL dipakai untuk belanja produktif, penguatan jaring pengaman sosial, serta investasi jangka panjang, maka pengurangan kas di bank dapat terbayar oleh pertumbuhan ekonomi yang lebih kokoh. Namun bila hanya untuk menambal kebocoran struktural, publik akan merasakan beban tanpa menikmati hasil.
Pada akhirnya, kebijakan tarik dana SAL mengajak kita merenungkan kembali hakikat kehati-hatian fiskal. Bukan sekadar menahan diri berutang, tetapi juga berani menggunakan tabungan negara secara bijak. Pemerintah, otoritas moneter, perbankan, maupun masyarakat perlu melihat kebijakan ini sebagai proses penyesuaian menuju tata kelola keuangan negara lebih matang. Refleksi kritis dari publik justru membantu memastikan bahwa setiap rupiah yang ditarik dari rekening bank dapat kembali ke masyarakat dalam bentuk manfaat nyata, bukan sekadar angka di laporan keuangan.

