Prabowo, Kiai, dan Arah Baru Islam Nusantara

alt_text: Prabowo bersama seorang kiai berdiskusi tentang peran Islam Nusantara dalam arah baru politik.
0 0
Read Time:2 Minute, 56 Second

www.passportbacktoourroots.org – Pernyataan Prabowo Subianto di hadapan ribuan Nahdliyin baru-baru ini memantik kembali diskusi tentang peran islam nusantara dalam politik kebangsaan. Di tengah gemuruh shalawat dan seruan keagamaan, Prabowo menegaskan bahwa berada di dekat para kiai membuat dirinya lebih berani berbakti membela rakyat. Ungkapan ini bukan sekadar retorika panggung, namun penanda kuat bahwa kekuatan moral pesantren masih menjadi rujukan utama arah perjalanan negeri.

Momen tersebut mencerminkan betapa besar pengaruh ulama serta tradisi islam nusantara terhadap pengambilan keputusan politik. Di ruang publik, narasi kebangsaan yang berpijak pada nilai keislaman moderat semakin dibutuhkan. Terutama saat polarisasi mudah tersulut oleh isu identitas. Kehadiran kiai sebagai penuntun moral bagi pemimpin nasional menegaskan kembali pentingnya kolaborasi antara kekuasaan dan kearifan lokal pesantren.

Islam Nusantara, Nahdliyin, dan Panggung Politik

Islam nusantara sering dipahami sebagai wajah Islam yang ramah, menghargai budaya lokal, serta menolak kekerasan. Di forum Nahdliyin, Prabowo terlihat berupaya menyelaraskan diri dengan karakter tersebut. Kehadirannya di tengah jamaah tidak hanya menunjukkan kedekatan politis, melainkan juga pengakuan terhadap legitimasi moral para kiai. Tanpa restu moral mereka, klaim keberpihakan kepada rakyat terasa kurang utuh.

Ribuan warga Nahdliyin yang hadir menjadi saksi bagaimana pesan islam nusantara disampaikan lewat simbol, gestur, serta pilihan kata. Prabowo menonjolkan semangat pengabdian, keberanian, dan komitmen terhadap keadilan sosial. Ia terlihat berusaha menempatkan diri bukan sekadar sebagai jenderal atau pejabat tinggi, tetapi sebagai murid yang merendah di hadapan guru-guru bangsa. Sikap itu memberi sinyal bahwa kekuatan politik tetap membutuhkan bimbingan spiritual.

Dari sudut pandang pribadi, saya melihat ini sebagai pergeseran penting. Selama bertahun-tahun, sebagian politisi cenderung menjadikan agama sebatas ornamen kampanye. Kini, wacana islam nusantara membawa standar baru: kedekatan dengan ulama harus tercermin melalui keberpihakan konkret terhadap rakyat kecil. Ketika Prabowo menyatakan lebih berani membela rakyat karena dekat kiai, publik berhak menagih bukti berupa kebijakan nyata. Klaim spiritual menuntut konsekuensi etis.

Peran Kiai: Penuntun Moral di Era Perubahan

Kiai dalam tradisi islam nusantara bukan hanya guru fikih. Mereka pengasuh masyarakat, penjaga akhlak, serta mediator sosial. Di hadapan mereka, pejabat negara sering kali menanggalkan jarak protokoler. Prabowo, yang memiliki latar belakang militer keras, menunjukkan sisi lain ketika berinteraksi dengan para ulama. Sorotan ini menggambarkan bagaimana kehadiran kiai mampu melunakkan karakter kekuasaan, lalu mengarahkannya pada kepedulian sosial.

Bila dicermati, kedekatan pemimpin dengan kiai memiliki dua wajah. Pertama, sebagai sumber inspirasi moral bagi penyusunan kebijakan publik. Kedua, sebagai potensi komodifikasi agama jika tidak diawasi. Di sini islam nusantara menawarkan keseimbangan. Tradisi kritis di pesantren, budaya musyawarah, serta penghormatan terhadap perbedaan menjadi rem alami terhadap politisasi berlebihan. Kiai yang teguh akan menjaga jarak sehat antara dukungan dan pengkultusan.

Saya memandang bahwa masa depan demokrasi Indonesia amat bergantung pada kualitas relasi pemimpin dengan ulama. Bukan soal seberapa sering hadir di forum Nahdliyin, tetapi seberapa jauh nilai islam nusantara diterjemahkan menjadi perlindungan bagi kelompok lemah. Kiai perlu terus mengingatkan, sementara pemimpin wajib siap dikoreksi. Relasi ideal itu bukan hubungan patron-klien, melainkan mitra moral yang saling menguatkan demi kemaslahatan publik.

Islam Nusantara sebagai Kompas Kebijakan Publik

Jika pertemuan Prabowo dan ribuan Nahdliyin dibaca lebih dalam, tampak jelas pesan bahwa islam nusantara layak dijadikan kompas kebijakan, bukan hanya jargon identitas. Wajah Islam yang menghargai budaya lokal, menolak ekstremisme, serta mengedepankan keadilan sosial sejatinya sangat relevan dengan tantangan Indonesia hari ini: kesenjangan ekonomi, intoleransi, serta rapuhnya solidaritas sosial. Pernyataan keberanian membela rakyat di dekat kiai harus diterjemahkan menjadi langkah konkret: reformasi tata kelola, perlindungan petani, penguatan pendidikan pesantren, hingga kebijakan ramah lingkungan. Refleksi akhirnya: keberanian sejati bukan terletak pada pidato lantang, melainkan kesediaan memikul beban moral ajaran islam nusantara ketika mengambil setiap keputusan kenegaraan.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Artikel yang Direkomendasikan