Pengedar Sabu Beji: Alarm Keras bagi Pasuruan
www.passportbacktoourroots.org – Pasuruan kembali menjadi sorotan setelah Satresnarkoba Polres setempat menggagalkan peredaran sabu di wilayah Beji. Kasus ini tidak hanya menambah daftar panjang pengungkapan narkoba, tetapi juga membuka mata publik mengenai betapa rapuhnya benteng sosial kota yang dikenal religius ini. Ketika aparat berhasil menyita sabu seberat 10,33 gram dari tangan seorang pengedar, pertanyaannya bukan sekadar siapa pelaku, melainkan seberapa dalam jaringan narkotika telah menusuk Pasuruan.
Peristiwa penangkapan pengedar sabu di Beji menegaskan bahwa Pasuruan sedang berada di persimpangan penting. Di satu sisi, kinerja kepolisian patut diapresiasi, di sisi lain, ada sinyal kuat bahwa narkoba menyasar berbagai lapisan masyarakat tanpa pandang usia maupun profesi. Kasus ini seharusnya menjadi alarm keras bagi warga Pasuruan untuk lebih awas, aktif melapor, serta berani melihat fakta pahit: ancaman narkoba sudah berada sangat dekat dengan lingkungan sehari-hari.
Selama ini banyak orang membayangkan Pasuruan sebatas kota persinggahan antara Surabaya dan Malang, atau sekadar kawasan industri yang sibuk. Namun penangkapan pengedar sabu di Beji mengungkap sisi lain yang lebih gelap. Tersangka disergap bersama barang bukti sabu 10,33 gram, jumlah yang cukup signifikan untuk ukuran peredaran di tingkat lokal. Angka itu mungkin tampak kecil dibanding pengungkapan besar di kota metropolitan, tetapi di tingkat kecamatan, efeknya bisa merusak satu komunitas sekaligus.
Penindakan aparat di Beji memberi gambaran bahwa Pasuruan bukan sekadar jalur lintasan, tetapi juga pasar potensial peredaran narkoba. Letak geografis di jalur utama pantura, ditambah aktivitas ekonomi yang terus bergerak, menciptakan celah bagi jaringan pengedar memanfaatkan mobilitas warga. Menurut sudut pandang pribadi, kerentanan ini muncul ketika pembangunan fisik melaju cepat, sementara ketahanan sosial, keluarga, serta komunitas tertinggal jauh di belakang.
Pasuruan membutuhkan cara pandang baru terhadap ancaman narkoba. Selama pendekatan masyarakat sebatas memosisikan narkotika sebagai aib keluarga atau persoalan individu, peredaran akan tetap bergerak di bawah permukaan. Penangkapan di Beji seharusnya memicu diskusi terbuka di kampung, sekolah, hingga tempat ibadah. Bukan untuk saling menghakimi, tetapi agar warga menyadari bahwa sekali sabu masuk ke satu lingkungan, efeknya bisa menular ke tetangga, rekan kerja, bahkan kerabat sendiri.
Kinerja Satresnarkoba Polres Pasuruan patut dibaca lebih jauh daripada sekadar foto barang bukti dan tersangka. Tim di lapangan biasanya bergerak setelah menerima informasi masyarakat, melakukan pengintaian, lalu menyusun strategi penangkapan. Penyeragapan pengedar sabu di Beji mengindikasikan adanya proses intelijen yang cukup matang. Artinya, polisi tidak lagi menunggu laporan pasif, tetapi aktif memburu jaringan yang merusak generasi muda daerah ini.
Dari sudut pandang penulis, tantangan terbesar aparat sebenarnya bukan hanya meringkus pelaku, melainkan memutus mata rantai pasokan. Seorang pengedar yang tertangkap di Pasuruan hampir pasti terhubung ke jaringan lebih besar, entah dari luar kota atau bahkan lintas provinsi. Di titik ini, kerja kepolisian membutuhkan dukungan penuh warga. Informasi kecil mengenai transaksi mencurigakan, tamu yang datang pergi secara tidak wajar, atau pergerakan malam hari, sering kali menjadi kunci pengungkapan kasus besar.
Namun dukungan masyarakat Pasuruan tidak akan hadir bila hubungan polisi dan warga masih berjarak. Oleh sebab itu, setiap pengungkapan kasus, seperti penangkapan di Beji, sebaiknya diikuti edukasi terbuka. Warga perlu diajak memahami bagaimana melapor dengan aman, tanpa takut balasan dari pelaku. Transparansi proses penindakan juga penting agar kepercayaan tumbuh. Ketika publik yakin laporan mereka ditindaklanjuti serius, sinergi antara Satresnarkoba dan masyarakat akan jauh lebih kuat.
Kasus pengedar sabu 10,33 gram di Beji seharusnya dibaca sebagai peringatan dini bagi masa depan Pasuruan. Jika hari ini pengedar berani beroperasi di level kecamatan, besok bisa saja konsumen bertambah dari kalangan pelajar, buruh pabrik, atau pekerja informal lain yang rentan tekanan ekonomi. Menurut pandangan pribadi, upaya keras kepolisian harus diimbangi gerakan sosial yang menanamkan kebanggaan menjadi generasi bersih narkoba. Mulai dari keluarga, sekolah, hingga komunitas lokal perlu menciptakan ruang dialog jujur tentang risiko sabu, tanpa menutup-nutupi fakta pahit. Refleksinya sederhana namun tajam: Pasuruan hanya akan tetap berdiri tegak bila berani menghadapi luka hari ini, agar tidak kehilangan seluruh generasinya esok.
www.passportbacktoourroots.org – Keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat membatalkan kebijakan tarif era Trump bukan sekadar isu…
www.passportbacktoourroots.org – Pernyataan dubes Amerika Serikat yang terkesan mendukung langkah Israel mencaplok seluruh kawasan Syam…
www.passportbacktoourroots.org – Ketika Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno kembali menyinggung program Rocket 2026,…
www.passportbacktoourroots.org – Musi Rawas Utara kembali ramai diperbincangkan setelah bupatinya melontarkan ultimatum keras pada pangkalan…
www.passportbacktoourroots.org – Sidang gugatan ijazah Presiden Joko Widodo di Pengadilan Negeri Surakarta kembali menyita perhatian…
www.passportbacktoourroots.org – Banjir awal tahun di Grobogan kembali membuka luka lama bagi petani Jateng. Sedikitnya…