0 0
Nusantara Bangkit: Gotong Royong BRI di Aceh Tamiang
Categories: Peristiwa Penting

Nusantara Bangkit: Gotong Royong BRI di Aceh Tamiang

Read Time:2 Minute, 48 Second

www.passportbacktoourroots.org – Ketika bencana melanda satu sudut nusantara, getarannya hampir selalu terasa ke seluruh penjuru negeri. Aceh Tamiang baru saja merasakan pahitnya bencana, namun di tengah lumpur, puing, serta ruang kelas yang porak poranda, lahir lagi semangat gotong royong. Di sana, relawan BRI Peduli turun langsung membantu membersihkan sekolah, mengembalikan harapan sederhana: anak-anak dapat kembali belajar dengan tenang.

Kisah ini bukan sekadar laporan kegiatan sosial sebuah perusahaan besar. Ini cerminan wajah nusantara yang masih percaya pada solidaritas. Relawan berhenti sekadar menyalurkan bantuan materi, lalu memilih ikut mengangkat meja, menyiram lantai, menyeka dinding kelas. Aksi konkret seperti ini mengingatkan bahwa pemulihan pascabencana tidak cukup fokus pada infrastruktur, tetapi juga pada pemulihan batin dan martabat warga setempat.

Nusantara, Bencana, dan Makna Hadir Secara Fisik

Banyak wilayah nusantara akrab dengan banjir, longsor, juga gempa. Aceh Tamiang salah satu contohnya. Ketika air surut, pemandangan sisa bencana selalu sama: ruang kelas penuh lumpur, buku rusak, kursi berantakan. Pada titik itu, kehadiran relawan BRI Peduli membawa napas baru. Mereka tidak datang sebagai pahlawan, melainkan sebagai tetangga yang ikut merapikan rumah bersama.

Saya memandang aksi bersih-bersih sekolah ini sebagai simbol keberpihakan pada masa depan. Sekolah merupakan ruang tempat generasi nusantara ditempa. Menata ulang kelas berarti turut menata kembali rasa percaya diri murid, guru, sekaligus orang tua. Ketika pintu kelas kembali terbuka, itu pertanda bahwa roda kehidupan mulai berputar normal, walau pelan dan penuh luka.

Dari sudut pandang sosial, langkah BRI Peduli merefleksikan bentuk tanggung jawab baru. Bukan lagi sebatas menyalurkan bantuan tunai, lalu selesai. Mereka hadir secara fisik, berpeluh di area yang mungkin masih licin dan berbau. Kehadiran raga sering lebih menyentuh dibanding angka di laporan donasi. Contoh seperti ini patut ditiru berbagai pihak lain di seluruh nusantara.

BRI Peduli dan Ruh Gotong Royong Nusantara

Ketika relawan masuk ke lingkungan sekolah di Aceh Tamiang, yang dibawa bukan hanya peralatan kebersihan. Mereka membawa semangat gotong royong khas nusantara. Guru, warga sekitar, hingga murid yang sudah cukup besar, bergabung menjadi satu tim. Aktivitas demikian menghapus batas antara pemberi bantuan dan penerima bantuan. Semua sama-sama berkeringat, sama-sama ingin sekolah pulih sesegera mungkin.

Sikap kolektif ini menegaskan bahwa nusantara masih menyimpan modal sosial kuat. Di era digital, dimana empati kerap berhenti di unggahan media sosial, perjumpaan langsung menjadi amat berharga. Saya melihatnya sebagai penyeimbang derasnya arus individualisme. Relawan BRI Peduli menunjukkan bahwa perusahaan pun dapat hadir sebagai bagian komunitas, bukan sekadar entitas bisnis pencari laba.

Dari sisi pendidikan, kegiatan bersih-bersih juga berfungsi sebagai kelas karakter terbuka. Anak-anak menyaksikan orang dewasa, termasuk pegawai bank, ikut jongkok menguras selokan dan mengangkat meja berlumpur. Adegan ini tertanam di ingatan mereka. Kelak, ketika nusantara menghadapi bencana baru di lokasi berbeda, memori kolektif tentang solidaritas ini bisa muncul kembali, melahirkan generasi yang tidak asing dengan aksi nyata tolong-menolong.

Pemulihan Pascabencana: Lebih dari Sekadar Fisik

Pemulihan pascabencana di Aceh Tamiang melalui kegiatan BRI Peduli mengingatkan bahwa bangsa besar seperti nusantara tidak cukup mengandalkan proyek rehabilitasi fisik. Membersihkan kelas, menata rak buku, lalu mengepel lantai ternyata turut membersihkan rasa putus asa. Dari sudut pandang pribadi, saya menilai langkah semacam ini jauh lebih efektif menumbuhkan harapan dibanding seremonial penyerahan bantuan. Di akhir hari, lumpur mungkin sudah kering, dinding mungkin sudah dicat ulang, namun yang benar-benar penting ialah lahirnya keyakinan baru: ketika musibah datang, nusantara tidak pernah membiarkan satu daerah bangkit sendirian. Inilah esensi gotong royong yang layak terus dirawat, dikembangkan, serta diwariskan.

Happy
0 0 %
Sad
0 0 %
Excited
0 0 %
Sleepy
0 0 %
Angry
0 0 %
Surprise
0 0 %
Nabil Syahputra

Share
Published by
Nabil Syahputra

Recent Posts

Deflasi Awal 2026: Sinyal Ekonomi Baru Gunungkidul

www.passportbacktoourroots.org – Awal 2026 menghadirkan kejutan ekonomi untuk Gunungkidul. Bukan lonjakan harga, melainkan deflasi sekitar…

9 jam ago

Kolegium Dokter Spesialis, Independen atau Formalitas?

www.passportbacktoourroots.org – Perdebatan tentang posisi kolegium dokter spesialis kembali memanas. Musyawarah Guru Besar Kedokteran Indonesia…

15 jam ago

Kontroversi Pesawat Kepresidenan dan Etika Nasional

www.passportbacktoourroots.org – Perdebatan nasional soal pemakaian pesawat kepresidenan kembali mencuat, kali ini melibatkan Presiden Prabowo…

21 jam ago

Alasan Tersembunyi Kurzawa Pilih Persib Bandung

www.passportbacktoourroots.org – Keputusan Layvin Kurzawa menerima tawaran Persib Bandung memicu diskusi luas di dunia sepak…

1 hari ago

Kecelakaan Jagorawi: Jetour T2 Terbakar, Gengsi di Atas Nalar

www.passportbacktoourroots.org – Kecelakaan di Tol Jagorawi kembali mengusik rasa aman pengguna jalan tol. Kali ini…

2 hari ago

Iuran Perdamaian, APBN Tertekan, Pajak Terancam Naik

www.passportbacktoourroots.org – Perdebatan soal pajak kembali menghangat setelah rencana iuran ke Dewan Perdamaian memunculkan kekhawatiran…

2 hari ago