www.passportbacktoourroots.org – Sejak awal One Piece, impian Roronoa Zoro sudah jelas: mengalahkan Dracule Mihawk serta merebut gelar pendekar pedang terkuat di dunia. Target ini bukan sekadar ambisi personal, namun fondasi karakter Zoro sebagai ujung tombak ofensif Bajak Laut Topi Jerami. Pertanyaannya, dengan teknik pedang saat ini, apakah Zoro sudah mendekati level Mihawk atau masih butuh lompatan besar lagi?
Perjalanan Zoro menunjukkan pola evolusi teknik yang konsisten, brutal, juga penuh resiko. Mulai gaya tiga pedang ikonik hingga penguasaan Haoshoku, setiap tahap membawanya selangkah lebih dekat pada kursi pendekar pedang terkuat di dunia. Melihat perkembangan pasca Wano, banyak petunjuk bahwa kesenjangan Zoro dan Mihawk mulai menyempit, meski belum hilang sepenuhnya.
Skala Kekuatan Mihawk vs Zoro Saat Ini
Untuk menilai peluang Zoro menjadi pendekar pedang terkuat di dunia, kita harus memahami posisi Mihawk lebih dulu. Mihawk diakui resmi oleh Pemerintah Dunia sebagai pendekar pedang terkuat saat ini. Gelar itu bukan sekadar reputasi kosong, melainkan hasil duel legendaris melawan Shanks. Dari sini, Oda menempatkannya setara bahkan mungkin melampaui banyak Yonko dalam ranah teknik murni pedang.
Sebaliknya, Zoro masih berstatus penantang. Kalah telak di Baratie menjadi titik balik terbesar. Sejak itu, seluruh latihan serta pertarungannya diarahkan menuju satu orang: Mihawk. Time skip menandai transformasi penting. Zoro rela menelan harga diri lalu memohon dilatih pria yang ingin dikalahkan. Secara naratif, keputusan seperti itu hampir selalu menandakan murid berpotensi melampaui guru pada akhir cerita.
Namun, selisih level belum tertutup. Mihawk sudah stabil di puncak, sementara Zoro masih mendaki. Keunggulan Mihawk tampak pada kontrol jarak, efisiensi serangan, serta ketenangan ekstrim saat bertarung. Zoro sudah mendekati ranah itu, tetapi gaya bertarungnya masih mengandalkan agresi liar, dorongan emosi, serta ketahanan tubuh. Senjata andalan Zoro untuk mengejar gap tersebut bukan sekadar otot, melainkan evolusi haki dan pemahaman pedang terkutuk.
Evolusi Teknik Tiga Pedang Zoro
Identitas Zoro sebagai calon pendekar pedang terkuat di dunia tidak lepas dari gaya santoryu. Tiga pedang memberi fleksibilitas luar biasa sekaligus risiko. Konsep ini memaksa koordinasi otot leher, tangan, juga kaki pada level ekstrem. Di awal cerita, santoryu tampak “gimmick” unik. Namun seiring perkembangan, Oda menjadikannya sistem teknik penuh lapisan, bukan sekadar gaya bertarung eksentrik.
Pascatime skip, variasi santoryu berkembang drastis. Teknik seperti Rengoku Onigiri, Purgatory Onigiri, hingga Ittoryu serangan tunggal bertenaga besar memperlihatkan pematangan konsep. Zoro tidak lagi mengandalkan tiga pedang semata-mata untuk gaya, melainkan memilih posisi pedang sesuai tujuan. Kadang ia fokus pada serangan presisi satu pedang, kadang memaksimalkan tekanan tiga pedang saat perlu menghancurkan pertahanan lawan.
Hal menarik lain, santoryu kini terintegrasi erat dengan haki. Busoshoku pada pedang serta tubuh membuat gerakan Zoro lebih berbahaya dan tahan serangan. Sementara itu, Kenbunshoku memperhalus timing tebasan. Kombinasi ini terlihat jelas ketika ia melawan King. Dia tidak hanya mengandalkan kekuatan mentah, melainkan adaptasi terhadap ras Lunarian. Bagi calon pendekar pedang terkuat di dunia, kemampuan membaca pola unik lawan seperti itu adalah syarat mutlak.
Peran Enma, Shusui, dan Pedang Terkutuk
Salah satu indikator bahwa Zoro diproyeksikan menjadi pendekar pedang terkuat di dunia adalah kualitas pedang yang ia gunakan. Shusui, pedang hitam legendaris Wano, sempat memberinya reputasi sebagai pahlawan di mata penduduk negeri itu. Namun, keputusan mengembalikan Shusui diganti Enma mengubah arah perkembangan Zoro. Enma bukan sekadar pengganti, melainkan katalis evolusi.
Enma memaksa Zoro mengeluarkan haki secara liar. Pada awalnya, senjata itu tampak seperti pedang tak terkendali yang menghisap kekuatan penggunanya. Namun justru di sinilah letak latihan tersembunyi. Untuk menaklukkan Enma, Zoro harus belajar mengatur arus haki lebih presisi. Proses itu mengarah ke bentuk kontrol baru yang sangat krusial saat mengejar standar Mihawk, pengguna pedang hitam Yoru.
Dari sudut pandang pribadi, Enma terasa seperti “ujian akhir” sebelum Zoro pantas menyentuh level pedang hitam. Sejarah Shusui menunjukkan pedang bisa berevolusi bersama pengguna. Bila Zoro menyalurkan kehendak, ambisi, serta tekadnya secara konsisten, bukan mustahil Enma atau pedangnya yang lain mencapai status hitam. Pada titik itu, status pendekar pedang terkuat di dunia tidak lagi sekadar cita-cita, melainkan konsekuensi alami evolusi pedang dan jiwa pemiliknya.
Haki, Haoshoku, dan Jalan Menuju Puncak
Keunggulan utama Mihawk sebagai pendekar pedang terkuat di dunia bukan hanya teknik tajam, melainkan pemahaman haki level tinggi. Zoro sendiri sudah menunjukkan Busoshoku pekat, bahkan mampu melapisi pedang secara permanen saat bertarung. Di Wano, kita melihat lonjakan besar ketika Zoro mulai memanfaatkan Haoshoku secara ofensif. Ini mengubah kelas pertarungannya.
Haoshoku bukan sekadar alat untuk menjatuhkan musuh lemah. Pada level tinggi, energi itu menyalut pedang lalu menambah jangkauan serangan. Saat melukai Kaido, Haoshoku Zoro membuka data bahwa ia masuk lingkaran elite dunia. Tidak semua tokoh besar memiliki Haoshoku, apalagi mampu mengaplikasikannya ke teknik pedang. Dari sudut analisis pribadi, inilah tiket Zoro menuju kursi pendekar pedang terkuat di dunia secara sah, setara dengan raja.
Namun, kemampuan saja belum cukup. Haoshoku butuh konsistensi juga kontrol emosional. Zoro cenderung bertarung dengan kemarahan terarah. Untuk benar-benar setara Mihawk, ia harus mengolah amarah menjadi ketenangan tajam, mirip pedang yang tidak goyah sedikit pun walau badai di sekelilingnya mengamuk. Saat Zoro mencapai kombinasi tenang sekaligus ganas, di situlah Haoshoku miliknya akan berada di level paling menakutkan.
Pertarungan Besar Sebagai Tolak Ukur
Label pendekar pedang terkuat di dunia hanya masuk akal bila ditopang rekam jejak pertarungan monumental. Zoro sudah menaklukkan banyak lawan berbahaya: Mr. 1, Kaku, Pica, hingga King. Tiap musuh memaksanya menemukan cara baru untuk menggabungkan teknik pedang juga strategi. Melawan Mr. 1, ia belajar “memotong baja”. Pertarungan itu simbolis karena membuka jalan menuju tebasan yang mampu memenggal apa pun.
Melawan King, standar naik lagi. Zoro berhadapan dengan lawan sayap kanan Yonko yang memiliki daya tahan absurd. Di sini terlihat transisi Zoro dari sekadar petarung kuat menjadi komandan kelas tinggi. Ia tidak lagi hanya mengandalkan kebuasan, melainkan membaca pola api King, memilih momen tepat, lalu menghabisinya dengan tebasan eksplosif. Kemenangan itu mengirim sinyal kuat: Zoro kini beroperasi di level top tier dunia.
Meskipun demikian, belum ada duel resmi ulang melawan Mihawk setelah time skip. Di titik itulah misteri mengendap. Oda sengaja menahan pertarungan balasan sebagai puncak busur karakter Zoro. Dari sudut pandang naratif, finalisasi status pendekar pedang terkuat di dunia baru sah saat duel tersebut terjadi. Semua pertarungan sebelumnya dapat dilihat sebagai kurva uji, bukan garis akhir.
Bisakah Zoro Mengalahkan Mihawk?
Pertanyaan inti bagi penggemar adalah sederhana: pada akhir seri, apakah Zoro benar-benar mengalahkan Mihawk dan merebut gelar pendekar pedang terkuat di dunia? Secara struktur cerita, jawabannya hampir pasti ya. Seluruh perjalanan Zoro dibangun menuju titik itu. Namun, waktu serta konteks duelnya masih tanda tanya. Apakah Mihawk akan tetap jadi lawan murni, atau justru sekutu sementara sebelum duel kehormatan?
Secara teknis, Zoro butuh tiga syarat utama. Pertama, setidaknya satu pedang hitam yang ia bentuk sendiri, bukan diwarisi. Kedua, penguasaan Haoshoku setara atau melampaui standar yang diperlihatkan saat melukai Kaido. Ketiga, pengalaman mengalahkan lawan kelas global yang reputasinya hampir sebanding Mihawk. Jika tiga poin ini terpenuhi, duel akhir tidak lagi terasa jomplang, melainkan pertemuan dua puncak.
Dari sisi pribadi, lebih menarik bila Oda menulis duel mereka bukan sebagai kebencian, tapi ajang penyerahan obor. Mihawk selama ini digambarkan sebagai pendidik keras, namun jujur. Ketika Zoro berdiri di hadapannya, membawa semua luka, latihan, juga ambisi menjadi pendekar pedang terkuat di dunia, duel itu akan terasa seperti ujian kelulusan. Kemenangan Zoro nantinya bukan sekadar mengalahkan guru, melainkan membuktikan bahwa generasi baru sudah siap menggantikan lama.
Refleksi Akhir: Makna “Terkuat” Bagi Zoro
Pada akhirnya, gelar pendekar pedang terkuat di dunia bagi Zoro bukan hanya soal mengalahkan Mihawk atau punya pedang terkuat. Gelar itu mewakili janji masa kecil pada Kuina, tanggung jawab sebagai sayap Luffy, dan pembuktian bahwa kerja keras tanpa kompromi masih punya tempat di dunia bajak laut yang penuh keajaiban buah iblis. Zoro menunjukkan bahwa disiplin, rasa sakit, dan loyalitas bisa menandingi kekuatan supernatural. Ketika kelak ia berdiri sebagai pendekar pedang terkuat di dunia, momen itu akan menjadi simbol bahwa tekad manusia biasa pun mampu menembus batas yang tampak mustahil.

