Guncangan Perang: Israel, Hamas, dan Krisis Militer
www.passportbacktoourroots.org – Dunia internasional kembali menoleh ke Timur Tengah. Bukan hanya karena serangan roket atau serbuan pasukan, melainkan akibat pengakuan mengejutkan dari petinggi militer Israel. Seorang jenderal IDF mengakui bahwa operasi panjang terhadap Hamas belum mencapai sasaran utama, sementara kerusakan mental tentara melonjak tajam. Di saat bersamaan, beban finansial konflik dikabarkan sudah menyentuh ratusan triliun rupiah.
Pengakuan tersebut menambah bab baru dalam diskusi internasional mengenai efektivitas perang modern. Narasi “kemenangan total” ternodai oleh laporan gangguan kejiwaan prajurit dan keruntuhan ekonomi domestik. Fenomena ini memaksa publik bertanya: sampai sejauh mana sebuah negara rela mengorbankan generasi mudanya demi tujuan militer yang terus bergeser, tanpa kepastian akhir yang jelas?
Ketika serangan militer Israel ke Gaza dimulai, banyak analis internasional memprediksi operasi singkat dengan hasil tegas. Target utamanya jelas: melumpuhkan Hamas, menghancurkan infrastruktur militan, lalu memulihkan citra keamanan nasional. Namun, bulan demi bulan berlalu, tujuan awal tersebut kian kabur. Hamas belum sepenuhnya tersingkir, sedangkan Israel menanggung biaya politik, sosial, serta ekonomi yang makin menyesakkan.
Laporan kerugian yang menembus kisaran Rp500 triliun mencerminkan betapa mahalnya ambisi militer di era global. Angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya terdapat anggaran pembangunan yang tertunda, layanan publik yang tertekan, juga generasi produktif yang terseret ke garis depan. Konsekuensi ini segera menjadi sorotan komunitas internasional, sebab konflik berkepanjangan berpotensi mengganggu rantai pasokan, stabilitas energi, hingga dinamika diplomasi kawasan.
Dari sudut pandang pribadi, konflik ini menegaskan satu hal pahit: perang modern nyaris mustahil dimenangkan secara mutlak. Militer mungkin mampu meluluhlantakkan gedung dan terowongan, tetapi ideologi serta jaringan sosial sulit dipadamkan hanya lewat kekuatan senjata. Dunia internasional menyaksikan bagaimana strategi keras mengundang resistensi baru, memperpanjang lingkaran kekerasan, sambil mengikis ketahanan psikologis pasukan sendiri.
Sisi paling mengerikan dari perang kerap tidak tercatat kamera. Jenderal IDF mengakui kenaikan signifikan kasus gangguan jiwa di kalangan tentaranya. Trauma tempur, rasa bersalah, ketakutan serangan balasan, hingga kelelahan berkepanjangan, menumpuk menjadi beban tak kasat mata. Banyak prajurit membawa pulang mimpi buruk dari garis depan, lalu mencoba berbaur kembali dengan masyarakat yang tidak benar-benar memahami horor medan perang.
Kondisi ini menyuguhkan ironi bagi komunitas internasional. Israel terkenal memiliki sistem keamanan canggih, teknologi militer mutakhir, juga intelijen disegani. Namun di balik kecanggihan itu, terdapat tentara yang rapuh secara mental. Gangguan stres pascatrauma, depresi, kecemasan akut, bahkan kecenderungan bunuh diri, menjadi ancaman nyata. Senjata modern tidak pernah dirancang untuk menyembuhkan luka batin para penggunanya.
Dari kacamata penulis, kegagalan merawat kesehatan mental prajurit sama fatalnya dengan kegagalan strategi militer. Negara yang mengerahkan ribuan anak muda ke garis depan tanpa sistem pemulihan psikologis komprehensif sedang menyiapkan bom waktu sosial. Dunia internasional mestinya menaruh tekanan bukan hanya terkait gencatan senjata atau hukum humaniter, tetapi juga kewajiban negara melindungi kesehatan jiwa pasukannya sendiri.
Pernyataan jenderal IDF tentang melonjaknya gangguan mental tentara, disertai kerugian finansial hingga ratusan triliun rupiah, mengungkap paradoks perang modern di hadapan komunitas internasional. Di satu sisi, negara mengejar rasa aman melalui operasi militer besar-besaran; di sisi lain, operasi itu menghancurkan stabilitas psikologis warganya dan menguras kas publik. Menurut pandangan pribadi, konflik Israel–Hamas memperlihatkan bahwa kemenangan sejati tidak sekadar mengalahkan lawan bersenjata, melainkan mampu memutus siklus kebencian, trauma lintas generasi, juga spiral biaya ekonomi yang melumpuhkan. Selama tujuan politik tidak jelas, diplomasi minim, serta solusi jangka panjang diabaikan, setiap roket yang diluncurkan hanya menambah baris kerugian baru di neraca keuangan dan di batin manusia—baik di Israel, Palestina, maupun di mata dunia internasional yang lelah menyaksikan perang tanpa ujung.
www.passportbacktoourroots.org – Kabar Jabar hari ini bukan soal hiruk-pikuk kampanye, melainkan tentang persiapan senyap yang…
www.passportbacktoourroots.org – Pernyataan Prabowo Subianto di hadapan ribuan Nahdliyin baru-baru ini memantik kembali diskusi tentang…
www.passportbacktoourroots.org – Beberapa tahun terakhir, jogging pelan-pelan mengubah wajah akhir pekan di Pontianak. Jalur tepi…
www.passportbacktoourroots.org – Sinetron romantis penuh intrik makin digemari penikmat lifestyle hiburan Indonesia. Satu judul yang…
www.passportbacktoourroots.org – Pasar travel religi di Indonesia terus berkembang, tetapi tawaran perjalanan sering terasa serupa.…
www.passportbacktoourroots.org – Pembicaraan mengenai perdamaian global sering terasa abstrak. Namun gagasan itu dapat menjadi konkret…