Fenomena Global: Inggris Jadi Rasa Baru Jepang

alt_text: Gedung Inggris berhias elemen Jepang, menggambarkan pertukaran budaya yang menonjol.
0 0
Read Time:6 Minute, 38 Second

www.passportbacktoourroots.org – Kuliner Inggris dulu kerap dicap hambar, kurang bumbu, bahkan jadi bahan lelucon global. Namun di Jepang, citra itu berubah total. Menu klasik seperti fish and chips, pie daging, hingga puding roti kini tampil sebagai bintang baru. Restoran bertema British bermunculan di kota besar, sementara kafe mungil bernuansa London mulai meramaikan sudut-sudut distrik kuliner Tokyo dan Osaka.

Perubahan selera ini mengejutkan turis asal Inggris yang berkunjung ke Jepang. Mereka datang mencari ramen, sushi, atau takoyaki, tetapi justru menemukan antrean warga lokal di depan gastropub bergaya British. Fenomena lintas budaya ini bukan sekadar tren sesaat. Ia mencerminkan bagaimana selera makan global bergerak, bernegosiasi, dan saling memengaruhi lintas negara.

Mengapa Jepang Jatuh Hati pada Cita Rasa Inggris?

Sebelum memahami fenomena ini, penting melihat karakter dasar dua tradisi kuliner tersebut. Jepang dikenal dengan kesederhanaan rasa, fokus pada kesegaran bahan, serta penekanan tekstur. Inggris, di sisi lain, kuat pada makanan rumahan yang mengenyangkan. Perpaduan dua identitas kuliner ini menghasilkan jembatan rasa baru yang menarik untuk pasar global, terutama generasi muda pencari pengalaman berbeda.

Menu Inggris menawarkan sesuatu yang cukup kontras namun masih bisa diterima lidah Jepang. Kentang goreng renyah, ikan bersalut tepung garing, kuah gravy gurih di atas mashed potato, hingga sosis panggang beraroma smoky. Tekstur yang jelas, rasa gurih tegas, tetapi tidak terlalu pedas. Kombinasi macam ini terasa aman sekaligus segar bagi konsumen Jepang yang mulai jenuh dengan pola makan harian serupa.

Ada pula sisi emosional. Banyak warga Jepang tumbuh bersama produk budaya populer global berbahasa Inggris: film, musik, hingga drama televisi. Melihat fish and chips di layar, lalu bisa mencicipi versi otentik di lingkungan sendiri, menimbulkan rasa kedekatan simbolis. Makanan Inggris lalu bukan sekadar sajian asing, tetapi bagian dari imajinasi global yang kini bisa dijangkau di meja makan.

Fish and Chips: Dari Pub London ke Lorong Tokyo

Fish and chips menjadi ikon utama gelombang kuliner Inggris di Jepang. Menu sederhana ini menawarkan format yang sangat ramah lidah lokal. Ikan putih tanpa tulang, balutan tepung renyah, kentang potong tebal, serta cuka malt atau saus tartar sebagai pendamping. Bagi konsumen Jepang, pola ini mengingatkan pada tempura, tetapi dengan identitas global yang berbeda.

Beberapa kedai di Tokyo bahkan melakukan adaptasi kreatif. Mereka mengganti jenis ikan sesuai ketersediaan lokal, menyesuaikan tingkat garam, atau menambah saus berbasis kecap Jepang. Hasilnya adalah versi fish and chips yang terasa akrab, namun tetap mempertahankan nuansa pub Inggris. Pendekatan ini memperluas daya tarik, terutama bagi pelanggan yang belum siap langsung menerima rasa otentik sepenuhnya.

Turis asal Inggris sering mengaku terkejut melihat keseriusan kedai Jepang menggarap menu ini. Dari kualitas minyak, teknik penggorengan, hingga pemilihan kentang, semua dikelola teliti. Ironisnya, sebagian dari mereka berkomentar bahwa fish and chips di Tokyo kadang terasa lebih presisi dibanding di beberapa kota pesisir Inggris sendiri. Di sinilah dinamika global bekerja: suatu negara merawat identitas kuliner negara lain dengan standar sangat tinggi.

Menu British Lain yang Mencuri Perhatian Global

Fish and chips mungkin bintang utama, namun bukan satu-satunya. Pie daging dengan lapisan pastry rapuh, cottage pie, hingga beef stew gaya pub mulai bermunculan di menu restoran Jepang. Keunggulan hidangan ini ada pada sensasi comfort food. Masyarakat urban Jepang yang lelah bekerja menemukan kehangatan baru lewat paduan kentang, daging, serta kuah kental yang mengingatkan pada masakan rumahan, meski berasal dari budaya berbeda.

Sisi manis kuliner Inggris juga ikut naik daun. Scones dengan krim kental, bread and butter pudding, sticky toffee pudding, hingga trifle kini sering muncul di kafe bertema afternoon tea. Konsep minum teh sore dengan setelan tiga tingkat berisi sandwich kecil, kue, dan roti manis terasa mewah untuk pasar Jepang. Format ini cocok dengan budaya menikmati waktu senggang yang tertata rapi, sebuah gaya hidup global yang dibentuk media sosial.

Yang menarik, beberapa hotel dan department store besar memanfaatkan tren ini dengan menghadirkan event “British Fair” secara berkala. Pengunjung dapat mencicipi berbagai menu Inggris, membeli teh impor, selai buah, atau biskuit mentega. Ajang tersebut memperkuat citra kuliner Inggris sebagai pengalaman lengkap, bukan sekadar hidangan tunggal. Kuliner bertransformasi menjadi paket gaya hidup global, lengkap dengan dekorasi, musik, serta suvenir tematik.

Faktor Media, Pop Culture, dan Brand Inggris

Kebangkitan citra kuliner Inggris di Jepang tidak lepas dari narasi media. Acara memasak global yang menampilkan chef asal Inggris, seperti Gordon Ramsay atau Jamie Oliver, memberi sudut pandang baru. Mereka memodernisasi cara penyajian, menonjolkan kualitas bahan, serta menekankan perhatian pada rasa. Gambaran ini sangat berbeda dari stereotip lama soal makanan Inggris yang serba pucat.

Film, serial, dan novel berlatar Inggris juga ikut menyumbang lapisan makna. Adegan minum teh sore, sarapan besar penuh sosis dan telur, atau makan malam di pub desa memberi bayangan hangat mengenai kehidupan sehari-hari. Bagi penonton Jepang, detail-detail itu memicu rasa ingin tahu. Saat pariwisata global sempat terhambat, kehadiran restoran bertema Inggris di Jepang menjadi cara alternatif menjelajahi atmosfer London atau Edinburgh lewat indera pengecap.

Brand Inggris memiliki daya tarik historis. Kata kunci seperti “royal”, “Victorian”, atau “British classic” membawa asosiasi kemewahan halus, tradisi panjang, dan kualitas. Ketika label tersebut ditempelkan pada hidangan, muncul persepsi nilai tambah. Pengelola restoran memanfaatkan aura itu dengan desain interior khas: wallpaper bunga, kursi kayu tua, poster band rock Inggris, hingga bendera Union Jack. Suasana ini mengemas kuliner Inggris sebagai pengalaman visual global yang sulit dilewatkan.

Adaptasi Rasa: Kunci Sukses di Meja Makan Jepang

Salah satu alasan kuliner Inggris bisa diterima luas di Jepang ialah fleksibilitas resep. Banyak koki lokal tidak ragu melakukan penyesuaian. Porsi diperkecil, lemak dikontrol, garam dikurangi, bahkan tekstur dimodifikasi. Tujuannya mencapai keseimbangan antara identitas asal dengan sensitivitas lidah Jepang. Pendekatan ini penting agar menu tidak terasa terlalu berat, tetapi tetap memuaskan.

Contohnya, variasi fish and chips dengan saus berbasis kecap asin atau mayones Jepang. Pie daging disajikan bersama salad segar, bukan hanya kentang tumbuk. Scones dibuat sedikit lebih lembut agar sesuai kebiasaan mengonsumsi roti manis. Bentuk adaptasi seperti ini mencerminkan negosiasi rasa di era global, saat batas otentisitas menjadi lebih lentur tanpa kehilangan penghormatan terhadap akar budaya.

Sebagai penulis, saya melihat adaptasi ini justru memperkaya kedua belah pihak. Kuliner Inggris mendapat kehidupan baru, sementara dapur Jepang memperoleh bahan eksplorasi segar. Pola ini berbeda dari kolonialisasi rasa satu arah. Di sini terjadi dialog kuliner. Jepang tidak sekadar menjadi pasar pasif, tetapi turut membentuk seperti apa rupa dan rasa makanan Inggris masa depan di kancah global.

Turis Inggris: Antara Bangga, Kagum, serta Bingung

Reaksi turis asal Inggris terhadap fenomena ini berlapis. Banyak yang merasa bangga melihat makanan negaranya dihargai jauh dari rumah. Ada rasa lega, seolah dunia akhirnya memberi kesempatan kedua untuk menilai ulang reputasi kuliner Inggris. Bagi sebagian, menyantap fish and chips di Tokyo menjadi pengalaman emosional, campuran nostalgia dan rasa tak percaya.

Namun, tidak sedikit pula yang merasakan kebingungan lucu. Mereka datang dengan ekspektasi mencicipi masakan Jepang otentik, tetapi pulang dengan cerita tentang pie daging di Shibuya. Beberapa bahkan mengakui bahwa pengalaman menyantap menu Inggris di Jepang membuat mereka meninjau ulang standar restoran di kota asal. Ketika hidangan yang dianggap biasa saja di rumah diperlakukan bak bintang global, pandangan terhadap identitas kuliner ikut bergeser.

Dari sudut pandang saya, momen ini menunjukkan betapa identitas makanan tidak pernah benar-benar tetap. Apa yang dulu dicemooh bisa menjadi tren, tergantung siapa yang mengadopsi, bagaimana mengemasnya, serta narasi apa yang menyertainya. Jepang, dengan kultur perfeksionis dan rasa hormat tinggi pada teknik, memberi panggung baru bagi kuliner Inggris untuk dipandang lebih serius. Fenomena ini mengajarkan bahwa nilai suatu tradisi kuliner sering terlihat lebih jelas ketika terpancar melalui lensa budaya lain.

Masa Depan Kuliner Inggris di Peta Global

Melihat ke depan, posisi kuliner Inggris di Jepang berpotensi terus menguat, asalkan tetap bersedia berdialog dengan selera lokal. Kolaborasi chef Inggris dan Jepang bisa melahirkan hidangan hibrida menarik, misalnya ramen gravy ala pub, atau karaage berlapis adonan ala fish and chips. Fenomena ini mencerminkan arus besar kuliner global: bukan lagi soal siapa menguasai siapa, melainkan bagaimana tradisi saling bertukar, memperbaiki citra, serta menemukan rumah baru di hati penikmat lintas negara. Refleksinya sederhana namun penting: mungkin kita perlu lebih sering memberi kesempatan kedua pada masakan yang dulu kita remehkan, karena di meja makan budaya lain, ia bisa menjelma menjadi bintang.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Artikel yang Direkomendasikan