Banjir Jabodetabek Surut, Luka Kota Belum Pulih
www.passportbacktoourroots.org – Banjir kembali menguji ketahanan warga jabodetabek. Air mulai surut, namun jejak bencana masih terasa kuat di banyak sudut kota. Menjelang malam, laporan terakhir menyebut puluhan rukun tetangga belum sepenuhnya terbebas genangan. Satu ruas jalan penting pun masih terendam, memutus akses dan mengganggu mobilitas warga yang sudah lelah berjibaku sejak subuh. Fenomena berulang ini memantik pertanyaan besar: sampai kapan jabodetabek bertahan di atas pola yang sama, tanpa perubahan berarti dari tahun ke tahun?
Kawasan padat penduduk seperti jabodetabek selalu menjadi sorotan ketika musim hujan datang. Setiap rilis resmi tentang jumlah RT tergenang terasa seperti deja vu. Angka boleh turun, air boleh surut, namun rasa cemas masyarakat tetap tinggi. Di balik statistik, terdapat kisah perabot rusak, usaha rumahan terganggu, serta akses sekolah dan kerja yang terhambat. Banjir sudah bergeser, bukan lagi sekadar kejadian musiman, melainkan cermin rapuhnya manajemen kota metropolitan terbesar di Indonesia.
Meskipun sebagian wilayah jabodetabek sudah terbebas dari banjir, data terakhir menunjukkan 45 RT masih terendam. Angka itu mungkin tampak kecil jika dibandingkan ratusan RT pada puncak hujan, namun bagi warga terdampak, satu sentimeter air di ruang tamu tetap terasa berat. Mereka bergulat dengan lantai licin, bau lembap, serta ketidakpastian kapan aktivitas normal kembali pulih. Satu ruas jalan utama pun belum dapat dilalui, menciptakan kemacetan berlapis di rute alternatif.
Situasi jabodetabek hari ini menampakkan wajah paradoks perkotaan. Di satu sisi, infrastruktur terus berkembang, gedung tinggi menjulang, kawasan bisnis baru bermunculan. Namun di sisi lain, genangan beberapa puluh sentimeter saja mampu melumpuhkan mobilitas ribuan orang. Banjir bukan sekadar urusan air yang meluap, melainkan persoalan tata ruang, perilaku buang sampah, hingga perencanaan jangka panjang yang kerap dikalahkan logika proyek jangka pendek.
Dari sudut pandang pribadi, banjir di jabodetabek terasa seperti peringatan tahunan yang diabaikan. Tiap musim hujan, publik menerima laporan serupa: jumlah RT tergenang, ruas jalan terputus, warga mengungsi atau bertahan di lantai dua. Saat air surut, perhatian segera bergeser ke isu lain. Pola itu membuat kota seolah tak pernah sungguh-sungguh belajar. Padahal, setiap genangan adalah data berharga, setiap RT terendam merupakan alarm kebijakan yang menuntut evaluasi serius.
Bagi warga biasa, banjir di jabodetabek bukan hanya urusan terendam atau tidak. Banyak pekerja harian kehilangan penghasilan karena jalan terputus, transportasi terganggu, atau tempat usaha kebanjiran. Penjual makanan di pinggir jalan, ojek, sopir angkutan, hingga pedagang kecil di gang sempit merasakan pukulan langsung. Ketika satu ruas jalan utama masih tergenang, aliran uang di sekeliling ruas tersebut ikut melambat, lalu berdampak ke lingkaran ekonomi lebih luas.
Anak sekolah pun terdampak cukup berat. Orang tua ragu mengizinkan berangkat saat air belum sepenuhnya surut. Jalan licin, arus air tak terduga, serta kendaraan yang memaksa menerobos genangan menciptakan risiko tambahan. Jabodetabek yang seharusnya menjadi pusat pendidikan dan kesempatan, seketika terasa rapuh ketika hujan lebat memaksa penyesuaian jadwal belajar. Kesenjangan pun makin terasa, karena keluarga dengan sumber daya lebih mudah menyiasati gangguan, sedangkan kelompok rentan sering kali tertinggal.
Dari sisi psikologis, banjir berulang menimbulkan kelelahan emosional. Warga jabodetabek yang tinggal dekat bantaran sungai atau dataran rendah, hidup dengan kalender hujan di kepala. Setiap mendung tebal, ada kecemasan diam-diam: apakah air akan naik lagi malam ini? Kondisi itu menggerus rasa aman di rumah sendiri. Bagi banyak orang, rumah berubah menjadi tempat siaga, bukan lagi ruang istirahat. Hal ini jarang tercermin dalam angka resmi, padahal dampaknya nyata bagi kualitas hidup kota.
Melihat pola berulang, jabodetabek perlu berani mengambil langkah di luar kebiasaan. Bukan hanya proyek drainase, normalisasi sungai, atau pengerukan selokan menjelang musim hujan. Perlu rekayasa tata ruang yang memihak ruang hijau, pengendalian pembangunan di daerah resapan, serta kebijakan tegas terhadap pelanggaran izin yang mengorbankan aliran air alami. Di saat sama, warga harus diajak terlibat sebagai mitra, bukan sekadar objek program. Edukasi sampah, pelaporan dini genangan, hingga gotong royong membersihkan saluran kecil bisa menjadi lapisan perlindungan pertama. Pada akhirnya, banjir di jabodetabek akan terus menjadi tamu musiman selama kebijakan, perilaku, serta desain kota berjalan berlawanan arah. Refleksi pentingnya: apakah kita memilih beradaptasi secara serius, atau sekadar menunggu air surut lalu melupakan pelajarannya?
www.passportbacktoourroots.org – Awal 2026 menghadirkan kejutan ekonomi untuk Gunungkidul. Bukan lonjakan harga, melainkan deflasi sekitar…
www.passportbacktoourroots.org – Perdebatan tentang posisi kolegium dokter spesialis kembali memanas. Musyawarah Guru Besar Kedokteran Indonesia…
www.passportbacktoourroots.org – Perdebatan nasional soal pemakaian pesawat kepresidenan kembali mencuat, kali ini melibatkan Presiden Prabowo…
www.passportbacktoourroots.org – Keputusan Layvin Kurzawa menerima tawaran Persib Bandung memicu diskusi luas di dunia sepak…
www.passportbacktoourroots.org – Kecelakaan di Tol Jagorawi kembali mengusik rasa aman pengguna jalan tol. Kali ini…
www.passportbacktoourroots.org – Perdebatan soal pajak kembali menghangat setelah rencana iuran ke Dewan Perdamaian memunculkan kekhawatiran…