www.passportbacktoourroots.org – Banjir bandang di Tulungagung kembali mengingatkan betapa rapuhnya infrastruktur kesehatan saat berhadapan dengan bencana alam. Puskesmas Besole, yang seharusnya menjadi garda terdepan layanan kesehatan warga, justru lumpuh karena tertutup lumpur tebal. Ruang tunggu, lorong, hingga beberapa ruang pelayanan berubah mirip kubangan, memaksa tenaga kesehatan menghentikan aktivitas medis untuk fokus menguras air serta mengangkut lumpur.
Di balik berita banjir bandang di Tulungagung, ada cerita manusiawi tentang tenaga kesehatan yang tiba-tiba beralih peran menjadi petugas kebersihan darurat. Mereka menyingsingkan lengan baju, mengangkat peralatan, memindahkan obat, lalu menyapu lumpur dari pagi hingga petang. Kejadian ini bukan sekadar gangguan sementara, namun alarm keras mengenai kesiapsiagaan fasilitas kesehatan menghadapi iklim yang semakin sulit diprediksi.
Puskesmas Terlumpur di Tengah Banjir Bandang di Tulungagung
Banjir bandang di Tulungagung tidak hanya menenggelamkan rumah serta jalan desa, tetapi juga melumpuhkan Puskesmas Besole. Air yang membawa material tanah, pasir, serta sampah memasuki area puskesmas, kemudian meninggalkan lapisan lumpur cukup tebal. Aktivitas pelayanan berhenti total karena ruang pemeriksaan, farmasi, hingga area administrasi tidak lagi layak digunakan. Pasien yang datang terpaksa pulang atau mencari pertolongan ke fasilitas lain.
Tenaga kesehatan menghadapi dilema sulit. Di satu sisi, kebutuhan layanan medis warga tetap tinggi setelah banjir bandang di Tulungagung, sebab risiko penyakit kulit, diare, atau infeksi pernapasan meningkat. Di sisi lain, ruang kerja mereka berubah menjadi area kotor, becek, serta licin. Sebagian petugas memilih memindahkan pasien gawat ke fasilitas terdekat, sementara lainnya bergotong royong membersihkan ruangan tanpa menunggu bantuan resmi.
Pemandangan para nakes memegang sekop, pel, serta ember mungkin terkesan sepele. Namun, dari sudut pandang kesiapsiagaan bencana, itu menunjukkan minimnya dukungan struktural ketika fasilitas kesehatan diterjang banjir bandang di Tulungagung. Idealnya, ada tim khusus kebencanaan atau unit tanggap darurat yang segera dikerahkan. Nyatanya, banyak tenaga kesehatan harus menangani sendiri kondisi darurat, sambil tetap memikirkan kelanjutan layanan ke pasien reguler.
Dampak Layanan Kesehatan dan Respons Tenaga Medis
Gangguan operasional Puskesmas Besole memiliki efek berantai bagi warga sekitar. Puskesmas tingkat kecamatan biasanya menjadi rujukan pertama ibu hamil, balita, serta lansia. Saat banjir bandang di Tulungagung membuat layanan di sana lumpuh, kelompok rentan berhadapan dengan risiko tertunda memperoleh obat rutin, imunisasi, atau pemeriksaan kehamilan. Keterlambatan sederhana bisa berujung komplikasi yang seharusnya dapat dicegah.
Dari sisi tenaga medis, episode ini menyisakan kelelahan fisik serta mental. Mereka bukan saja bekerja lembur pada hari biasa, tetapi kini ditambah tugas berat mengembalikan puskesmas ke kondisi layak. Mengenakan masker bukan untuk mencegah penularan penyakit pasien, melainkan guna menghindari bau lumpur dan debu yang mengepul ketika kotoran mulai mengering. Meski begitu, banyak tenaga kesehatan tetap memilih bertahan, karena menyadari bahwa kehadiran mereka dibutuhkan warga setelah banjir bandang di Tulungagung.
Secara pribadi, saya melihat situasi tersebut sebagai cermin ketangguhan sekaligus kelemahan sistem kesehatan lokal. Di satu sisi, dedikasi para nakes patut diapresiasi. Mereka bergerak cepat, tidak menunggu perintah berbelit. Namun di sisi lain, ketergantungan berlebihan pada heroisme individu berbahaya. Tanpa prosedur baku penanganan banjir bandang di Tulungagung untuk fasilitas kesehatan, kejadian serupa berpotensi berulang tanpa perbaikan berarti.
Membaca Pesan Alam dari Banjir Bandang di Tulungagung
Banjir bandang di Tulungagung bukan peristiwa tunggal yang dapat dilupakan setelah lumpur kering. Kejadian ini menyampaikan pesan jelas mengenai perlunya perencanaan ruang, infrastruktur tahan bencana, serta sistem rujukan kesehatan lebih tangguh. Puskesmas Besole hanyalah satu contoh titik lemah. Pemerintah daerah, pengelola fasilitas kesehatan, serta masyarakat perlu duduk bersama, meninjau kembali tata guna lahan, pola pembangunan, hingga protokol darurat ketika air kembali meluap. Refleksinya, bencana tidak sekadar tentang kerusakan fisik, melainkan ujian keseriusan kita membangun sistem yang sanggup melindungi nyawa pada saat paling genting.

