www.passportbacktoourroots.org – Balikpapan kian sering disebut sebagai calon kota global baru di Indonesia. Letaknya strategis, menjadi gerbang menuju Ibu Kota Nusantara sekaligus pusat bisnis Kalimantan. Namun, gelar kota global bukan sekadar label keren. Kota harus membuktikan diri melalui layanan publik yang kuat, terutama air bersih serta transportasi yang tertata.
Pernyataan Rizal Effendi soal kelayakan Balikpapan menjadi kota global terasa tepat, tetapi juga mengingatkan. Ia menekankan persoalan air bersih serta kemacetan belum terjawab tuntas. Di sinilah kita perlu jujur: pembangunan fisik, hotel mewah, kawasan bisnis modern, tidak akan berarti banyak bila warga masih kesulitan akses air layak serta terjebak berjam-jam di jalan.
Balikpapan Layak Kota Global, Namun Fondasi Harus Kuat
Gagasan Balikpapan sebagai kota global layak dibahas serius. Kota ini sudah lama menjadi simpul logistik, minyak, gas, serta jasa. Investor nasional maupun mancanegara telah menancapkan kaki di sini. Keberadaan bandara modern, pelabuhan, serta kedekatan dengan Ibu Kota Nusantara memberi modal besar. Secara geopolitik, Balikpapan berpotensi menjadi etalase Indonesia timur di mata dunia.
Namun, kota global menuntut standar layanan publik jauh di atas rata-rata. Kota seperti Singapura, Kuala Lumpur, atau Brisbane memberi pelajaran. Identitas global bukan hanya deretan gedung tinggi, melainkan konsistensi layanan dasar bagi seluruh warga. Air bersih mengalir lancar, transportasi publik terhubung, ruang kota tertata, serta aturan ditegakkan adil.
Dari sudut pandang perencanaan kota, keinginan mengejar status global tanpa membereskan fondasi justru berbahaya. Kota bisa terjebak pada kosmetik visual. Tampak modern di brosur promosi, tetapi rentan kolaps saat krisis. Pipa air bocor, jalan tak sanggup menampung kendaraan, banjir muncul ketika hujan deras. Kota global sejati justru terlihat dari cara ia mengurus hal paling mendasar.
Krisis Air Bersih di Tengah Ambisi Besar
Air bersih seharusnya menjadi hak dasar warga. Namun di banyak kawasan Balikpapan, persoalan suplai air belum stabil. Ada area yang hanya menikmati aliran beberapa jam per hari, bahkan masih mengandalkan air hujan atau air kemasan untuk keperluan rutin. Kondisi ini jelas jomplang bila disandingkan dengan narasi kota global yang digelorakan.
Penyebabnya tidak tunggal. Kapasitas instalasi pengolahan air terbatas, jaringan pipa berumur tua, kebocoran tinggi, serta perluasan kota melampaui kemampuan sistem. Pertumbuhan kawasan perumahan baru kerap melaju cepat tanpa diikuti perluasan infrastruktur air yang memadai. Akhirnya, warga menanggung dampak berupa suplai tak menentu, tekanan air rendah, hingga tarif yang terasa mahal untuk kualitas layanan seperti itu.
Dari kacamata kebijakan, kota global tidak mungkin dibangun di atas fondasi layanan air yang rapuh. Pemerintah daerah idealnya menempatkan air bersih pada prioritas setara proyek ikonik. Investasi harus diarahkan pada perluasan jaringan, peningkatan kapasitas produksi, teknologi smart water untuk mendeteksi kebocoran, serta perlindungan daerah tangkapan air. Tanpa terobosan berani, Balikpapan berisiko menanggung beban sosial besar ketika populasi melonjak seiring berkembangnya Ibu Kota Nusantara.
Kemacetan: Harga Kemajuan atau Kegagalan Tata Ruang?
Kemacetan di Balikpapan mulai terasa sebagai keseharian, terutama pada jam sibuk. Arus kendaraan dari kawasan perumahan menuju pusat bisnis berimpitan pada koridor jalan yang itu-itu saja. Ruas utama tidak dirancang untuk lonjakan kendaraan pribadi secepat ini. Hasilnya, waktu tempuh makin panjang, konsumsi bahan bakar meningkat, produktivitas warga tergerus.
Banyak pihak menganggap macet sebagai konsekuensi logis kemajuan ekonomi. Namun, sudut pandang itu kurang tepat. Di kota global yang sehat secara tata ruang, pertumbuhan aktivitas ekonomi justru diiringi penguatan transportasi publik. Pemilihan moda dikendalikan lewat kebijakan tarif parkir, pengembangan angkutan massal, serta insentif untuk berjalan kaki maupun bersepeda. Bila kota dibiarkan dikuasai mobil pribadi, maka macet lebih mencerminkan kegagalan perencanaan, bukan kemajuan.
Balikpapan perlu menata ulang strategi mobilitasnya. Peningkatan kapasitas jalan tanpa pembatasan kendaraan pribadi hanya memberi efek sementara. Pilihan yang lebih berkelanjutan ialah mengembangkan jaringan angkutan umum terintegrasi, memperbaiki kualitas trotoar, serta menerapkan manajemen lalu lintas cerdas. Di era kota global, kompetisi bukan hanya soal gedung tertinggi, melainkan siapa yang mampu mengantar warganya bergerak cepat, nyaman, serta rendah emisi.
Menuju Kota Global yang Inklusif dan Tangguh
Konsep kota global kerap identik dengan korporasi multinasional, hotel berbintang, serta konferensi internasional. Namun, ada dimensi lain yang sering terabaikan: inklusivitas. Balikpapan hanya pantas menyandang label kota global bila warga di pinggiran merasakan manfaat transformasi, bukan sekadar menonton dari kejauhan. Air bersih, layanan kesehatan, pendidikan, serta akses transportasi ramah biaya harus menjangkau seluruh lapisan.
Dari sudut pandang pribadi, justru di sinilah peluang Balikpapan melampaui kota lain. Kota ini memiliki skala yang belum terlalu raksasa, sehingga koreksi arah masih mungkin. Penguatan pelayanan publik dapat berjalan paralel dengan pengembangan kawasan bisnis. Pemerintah, dunia usaha, serta komunitas lokal bisa duduk satu meja menyusun rencana yang lebih berimbang antara pertumbuhan ekonomi dan keadilan sosial.
Ketangguhan juga menjadi kata kunci. Kota global masa kini dihadapkan pada ancaman perubahan iklim, krisis air, serta bencana alam. Balikpapan tidak kebal terhadap banjir, abrasi pantai, maupun krisis ekologi lain. Pengelolaan air bersih harus dihubungkan dengan konservasi hutan sekitar, pengendalian alih fungsi lahan, serta penataan sempadan sungai. Bila visi kota global memasukkan dimensi lingkungan, Balikpapan berpeluang menjadi contoh kota energi yang tetap hijau.
Menimbang Peran Kepemimpinan dan Partisipasi Warga
Transformasi Balikpapan menuju kota global penentu utamanya adalah kepemimpinan dan partisipasi warga. Pemimpin daerah memerlukan keberanian menetapkan prioritas jangka panjang, meski kadang kurang populer secara politik. Investasi pada air bersih serta transportasi publik sering terasa ‘tidak seksi’ dibanding proyek monumental, namun justru itulah penopang reputasi kota di mata dunia. Di sisi lain, warga tidak cukup hanya mengeluh macet atau suplai air bermasalah. Partisipasi melalui forum konsultasi publik, pengawasan anggaran, hingga perubahan perilaku sehari-hari memberi tekanan agar kebijakan bergerak ke arah lebih berkelanjutan. Kota global bukan hadiah turun dari langit, melainkan hasil negosiasi terus-menerus antara pemerintah, pasar, dan masyarakat.
Penutup: Mimpi Besar, Pekerjaan Rumah Lebih Besar
Balikpapan layak bermimpi besar menjadi kota global, terlebih dengan peran strategis sebagai mitra utama Ibu Kota Nusantara. Namun, mimpi tersebut menuntut kesediaan menghadapi kenyataan. Air bersih belum merata, kemacetan menggerus waktu warga, serta tekanan lingkungan meningkat. Mengabaikan masalah mendasar demi mengejar citra global hanya akan menciptakan kota yang rapuh di balik gemerlap.
Bila ambisi kota global dijadikan pintu masuk pembenahan layanan publik, maka narasi ini justru bisa menjadi energi positif. Status global dijadikan standar penguji kualitas air, sistem transportasi, tata ruang, hingga keadilan akses bagi warga kecil. Balikpapan dapat memilih jalur berbeda: bukan sekadar ‘kota etalase’ yang indah dipromosikan, tetapi ‘kota rumah’ yang nyaman dihuni.
Pada akhirnya, kota global terbaik bukan yang paling tinggi gedungnya, melainkan yang paling serius mengurus kebutuhan dasar penduduk. Balikpapan punya kesempatan unik berada di persimpangan sejarah. Keputusan hari ini, terutama terkait air bersih dan kemacetan, akan menentukan apakah itu hanya kota singgah bagi modal, atau benar-benar rumah layak bagi generasi mendatang. Refleksi ini seharusnya menjadi pegangan setiap kali kita menyebut kata: kota global.

