www.passportbacktoourroots.org – Pacitan kembali disebut di berbagai kanal berita setelah guncangan gempa terasa hingga sejumlah wilayah Jatim. Di tengah kecemasan warga, pemerintah pusat mengumumkan penyaluran bantuan Rp351,8 juta untuk penanganan dampak bencana. Angka itu tampak besar di permukaan, namun pertanyaan utama bagi masyarakat Jatim justru sederhana: seberapa cepat bantuan tiba, seberapa tepat sasaran realisasinya, serta seberapa terasa pengaruhnya bagi pemulihan kehidupan sehari-hari.
Penanganan gempa di Pacitan memberi cermin bagi kesiapsiagaan bencana Jatim secara keseluruhan. Provinsi ini dikenal rawan gempa, tsunami, tanah longsor, hingga banjir. Setiap rupiah bantuan seharusnya bukan sekadar angka di lembar berita, tetapi wujud nyata keberpihakan negara kepada warga yang terdampak. Di titik inilah publik Jatim layak menilai, apakah skema respons pemerintah sudah cukup tangguh, atau justru perlu dibenahi secara menyeluruh agar tidak sekadar reaktif setiap kali bencana datang.
Bantuan Rp351,8 Juta: Cukupkah untuk Pacitan dan Jatim?
Pemerintah menyalurkan Rp351,8 juta sebagai dukungan awal bagi penanganan gempa Pacitan. Biasanya paket bantuan mencakup logistik darurat, perbaikan sarana publik, serta dukungan teknis untuk penilaian kerusakan. Bagi banyak warga Jatim, informasi angka ini membawa dua rasa sekaligus: lega karena perhatian negara hadir, sekaligus ragu apakah jumlah tersebut memadai bila dibandingkan kebutuhan lapangan yang sering jauh lebih kompleks daripada perhitungan di atas kertas.
Pacitan berada di pesisir selatan Jatim yang berhadapan langsung dengan zona subduksi Samudra Hindia. Kawasan seperti ini memiliki potensi gempa kuat serta ancaman tsunami. Setiap guncangan, meski tidak selalu menimbulkan kerusakan besar, menuntut respon terencana. Dana Rp351,8 juta dapat memberi napas bagi penanganan awal, namun untuk jangka menengah hingga panjang, Jatim membutuhkan strategi berlapis, mulai dari penguatan bangunan, tata ruang, hingga kesiapan sosial masyarakat.
Dari sudut pandang kebijakan publik, angka bantuan seharusnya tidak berdiri sendiri. Pertanyaannya: apakah ada integrasi dengan program mitigasi bencana Jatim yang lebih luas? Jika dana hanya habis untuk kebutuhan sesaat, maka tiap kejadian gempa akan memicu siklus bantuan darurat berulang. Pacitan butuh peta jalan pemulihan yang menyeluruh, dengan dukungan anggaran berkelanjutan, bukan hanya suntikan sekali lalu dilupakan ketika sorotan media mereda.
Konsekuensi Gempa bagi Warga Pacitan dan Jatim
Gempa di Pacitan bukan sekadar peristiwa geologis, namun juga goncangan psikologis bagi warga Jatim. Rasa aman retak setiap kali tanah bergoyang, terutama bagi masyarakat pesisir yang akrab dengan narasi tsunami. Anak-anak, lansia, hingga pekerja sektor informal merasakan kecemasan berlapis. Bantuan uang tidak otomatis menyembuhkan trauma kolektif, sehingga program pendampingan mental perlu berjalan seiring distribusi logistik serta perbaikan infrastruktur.
Dari sisi ekonomi, gempa bisa mengganggu aktivitas harian, terutama bagi pelaku usaha kecil di Pacitan. Warung, penginapan, nelayan, serta petani mungkin terpaksa menghentikan operasi sementara. Kerusakan ringan pada bangunan pun dapat menelan biaya besar bila penghasilan sehari-hari terbatas. Di sinilah peran bantuan pemerintah bagi Jatim mesti diarahkan tidak hanya untuk pemulihan fisik, tetapi juga penyelamatan mata pencaharian agar roda ekonomi lokal tidak tersendat terlalu lama.
Ada pula konsekuensi sosial yang sering terabaikan. Saat bantuan mengalir ke Pacitan, potensi kecemburuan antarwilayah di Jatim bisa muncul bila distribusi dinilai tidak adil atau kurang transparan. Masyarakat mulai membandingkan: siapa dapat apa, seberapa cepat bantuan turun, serta siapa yang memutuskan prioritas. Pemerintah perlu membangun komunikasi terbuka, menyajikan data penerima bantuan, serta melibatkan komunitas lokal agar rasa kepercayaan tetap terjaga.
Mengukur Kesiapsiagaan Bencana Jatim ke Depan
Gempa Pacitan memberi kesempatan bagi Jatim untuk menilai kembali kesiapsiagaan bencana secara jujur. Bantuan Rp351,8 juta hanya salah satu elemen, bukan jawaban final. Perlu investasi serius pada edukasi kebencanaan di sekolah, simulasi rutin di kampung pesisir, serta pengetatan standar bangunan tahan gempa. Saya memandang gempa kali ini sebagai pengingat agar Jatim tidak puas dengan respons darurat belaka. Refleksi paling penting justru terletak pada keberanian memperkuat sistem sebelum getaran berikutnya datang, sehingga setiap warga memiliki pengetahuan, perlindungan, serta harapan yang lebih kokoh.

